Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 6 dan 7
“Sesungguhnya orang-orang yang kufur itu sama saja bagi mereka, apakah engkau (Nabi Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman (6). Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat (7)”. (al-Baqarah: 6-7)
Asbabun Nuzul
Imam al
Wahidi rahimahullah menukil pendapat Imam adh Dhahak rahimahullah yang
menyebutkan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Abu Jahal dan lima orang
keluarganya. Sementara itu, Imam al Kalbi rahimahullah menyebutkan bahwa ayat
ini turun berkaitan dengan orang-orang yahudi. (Asbabun nuzul
al Wahidi)
"Ibnu Abbas berpendapat bahwa ayat ini turun
berkenaan dengan kaum Yahudi yang tinggal di sekitar Madinah pada masa
Rasulullah ﷺ;
sebagai teguran bagi mereka atas pengingkaran terhadap kenabian Muhammad ﷺ dan pendustaan mereka kepadanya,
padahal mereka memiliki ilmu dan pengetahuan bahwa beliau adalah utusan Allah
bagi mereka dan bagi seluruh umat manusia. (Tafsir at Thabari)
Diriwayatkan juga dari Ibnu Abbas, bahwa bagian awal
surat Al-Baqarah hingga ayat keseratus darinya, turun mengenai laki-laki yang
disebutkan nama-nama serta nasab mereka secara spesifik dari kalangan pendeta
Yahudi, serta dari kalangan orang-orang munafik suku Aus dan Khazraj. (Tafsir
at Thabari)
Munasabah
Ayat lain dalam
al Quran yang juga menjelaskan sifat orang kafir yang semakna dengan kandungan
ayat ini adalah:
- ·
surat Yunus ayat 96 dan 97
- ·
al Baqarah 145
Tafsir Haraki
1. Ayat ini
berbicara tentang salah satu kategori manusia yang menjadi sasaran dakwah Nabi
SAW., yaitu orang-orang kafir dari kalangan Quraisy dan juga Yahudi. Kedua
kelompok ini memiliki kesamaan dalam pandangan mereka terhadap islam dan dakwah
Nabi SAW., yaitu kufur dan tidak mau menerima dakwah Nabi SAW.
2. Ayat ini
juga mengandung hikmah bagi para kader dakwah bahwa selamanya akan ada
orang-orang yang tidak suka dengan dakwah dan islam hingga hari kiamat. Meski
demikian, para dai tetap berkewajiban untuk menyampaikan dakwah kepada mereka
meski mereka kufur kepadanya.
Hal ini
karena Kesadaran bahwa tugas seorang dai hanyalah menyampaikan dakwah sangat
penting untuk dipahami oleh para kader dakwah. Adapun urusan hidayah, itu
adalah urusan Allah swt. Ayat al Quran yang menjelaskan hal ini sangat banyak,
di antaranya yaitu:
- ·
surat ar Ra’d ayat 4;
- ·
Surat Hud ayat 12;
3. Kalimat “Sesungguhnya
orang-orang yang kufur itu sama saja bagi mereka,…” adalah kalimat yang
menyiratkan bahwa dakwah tidak boleh berpaku pada satu jenis golongan saja,
yang dalam ayat ini adalah kalangan kaum kafir yang memusuhi dan menentang
dakwah. Sebab, hal itu akan menyita sebagian besar waktu dan sumber daya dakwah
yang seharusnya sangat dibutuhkan untuk dakwah ke kalangan lainnya.
Ketika
seorang dai menyadari karakter penolakan abadi ini ada pada objek dakwahnya,
maka ia haruslah segera berpindah objek dakwah dan menawarkan dakwah kepada
selainnya.
4. Seorang
dai hendaklah memahami karakter, potensi, dan pandangan objek dakwahnya
terhadap dakwah dan ajaran yang diserukannya. Hal ini akan membantu seorang dai
membuat skala prioritas tentang siapa yang paling potensial untuk menerima
dakwah dan menjadi pendukungnya.
Jangan
sampai seorang dai menghabis energi dan sumber dayanya hanya untuk mendakwahi
kalangan yang sudah diketahui hasil akhirnya bahwa bagaimanapun juga mereka
akan tetap menolak dakwah.
5. Meski
demikian, seorang dai tetaplah wajib memaksimalkan usaha penyampaian dakwah dan
ajarannya kepada para musuh dakwah, sebagaimana Nabi saw. tetap berusaha
maksimal dalam menyampaikan dakwah kepada musuh islam yang di maksud dalam ayat
ini.
6. Ada tiga hal pada tubuh manusia yang
menjadi jalan masuknya hidayah dakwah ke dalam diri seseorang, sebagaimana yang
disebutkan dalam ayat ketujuh surat ini, yaitu hati, pendengaran, dan
penglihatan.
Oleh sebab
itu, rencana dan strategi penyampaian materi dakwah haruslah menargetkan tiga
aspek utama ini dengan metode yang sesuai.
Namun
demikian, Allah swt. mengunci ketiganya bagi orang-orang kafir, yang
menyebabkan si pemiliki hati, mata, dan pendengaran tersebut tak ubahnya mayat
hidup, yaitu hidup secara fisik, namun sudah menjadi mayat secara ruhiyah.
Hadits Nabi SAW. Tentang Ayat Ini
1. Nabi SAW. Sangat Ingin Semua Manusia Mendapat Hidayah
"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman-Nya:
(Dan sekiranya Allah menghendaki, tentu Dia kumpulkan mereka semua dalam
hidayah), ia berkata: 'Sesungguhnya Rasulullah ﷺ sangat menginginkan agar seluruh
manusia beriman dan mengikuti petunjuknya. Maka Allah mengabarkan kepadanya
bahwa tidak akan ada yang beriman kecuali orang-orang yang telah ditetapkan
baginya kebahagiaan (hidayah) oleh Allah di dalam ketetapan-Nya yang terdahulu
(Lauh Mahfuzh). (Tafsir Ibnu Katsir)
2. Kekhawatiran Sahabat Nabi SAW.
Dari Abdullah bin 'Amru, dari Nabi ﷺ, dikatakan kepada beliau:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami membaca Al-Qur'an lalu kami merasa
penuh harap, namun kami juga membaca Al-Qur'an hingga kami hampir berputus asa
(karena peringatan-Nya)," atau seperti yang ia katakan.
Beliau bersabda: "Maukah aku beritahukan kepada
kalian tentang ciri penduduk surga dan penduduk neraka?"
Mereka menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah."
Beliau membaca: “Alif Laam Miim. Kitab (Al-Qur'an) ini
tidak ada keraguan padanya...” sampai firman-Nya: “...mereka itulah orang-orang
yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 1-5). Beliau bersabda: "Mereka inilah
penduduk surga."
Mereka berkata: "Sesungguhnya kami berharap agar
kami termasuk golongan mereka."
Kemudian beliau membaca: “Sesungguhnya orang-orang kafir,
sama saja bagimereka...” sampai firman-Nya: “...dan bagi mereka azab yang amat
berat.” (QS. Al-Baqarah: 6-7). Beliau bersabda: "Mereka itulah penduduk
neraka."
Mereka berkata: "Kami bukanlah bagian dari mereka,
wahai Rasulullah."
Beliau bersabda: "Benar (kalian bukan bagian dari
mereka)." (Tafsir Ibnu Katsir)
- Aswin Ahdir Bolano, S.Ud
- *Alumni Tafsir-Hadits UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Posting Komentar untuk "Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 6 dan 7"