Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 8 dan Ayat 9
Dan di antara manusia ada yang mengatakan,”
Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian”, padahal mereka bukanlah
orang-orang beriman (8). Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang beriman,
padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri, sedangkan mereka tidak sadar (9).
(al Baqarah: 8-9)
Asbabun Nuzul
Gambar oleh Jim Black dari Pixabay
Sebab turun ayat ini tidak diketahui
secara pasti oleh para ulama, hanya saja dipastikan bahwa ayat ini menjelaskan
tentang sifat munafik yang ada di kalangan penduduk Madinah.
Imam Ibnu Katsir rahimahullah menukil
riwayat dari Imam Ibnu Ishaq rahimahullah sebuah riwayat dari Ibnu Abbas ra.
bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang munafik dari kabilah Aus
dan Khazraj serta orang-orang yang sepaham dengan mereka.
Munasabah
Ayat lainnya yang ikut membahasa
tentang sifat munafik ini adalah:
- al Munafiqun ayat 1;
- al Mujadilah ayat 18;
- an Nisa ayat 142;
Tafsir Haraki
1. Ayat kedelapan surat ini bercerita
tentang adanya kelompok manusia yang hidup berdampingan dengan kaum muslimin,
menunjukkan dan bahkan berikrar tentang keimanan mereka, namun mereka
hakikatnya bukanlah orang beriman.
Mereka ini disebut oleh al Quran dan
hadits Nabi SAW. sebagai orang-orang munafik. Munafik adalah sifat menampakkan
kebaikan secara lahir, namun menyimpan kejahatan di dalam hati dan
perbuatannya.
Dalam konteks gerakan dakwah,
hendaklah setiap dai mewaspadai adanya orang-orang berpura masuk dan berikrar
sebagai seorang pengusung dakwah, namun sebenarnya mereka bukanlah dai, bahkan
menyimpan potensi kerusakan besar dalam dakwah.
2. Imam Ibnu Katsir rahimahullah
membagi sifat munafik menjadi dua, yaitu sifat munafik yang berkaitan dengan
aqidah yang akan membuat pemiliknya kekal di neraka dan
sifat munafik yang berkaitan dengan perbuatan dosa besar. Dalam ayat kedelapan ini, yang dimaksud
adalah munafik aqidah sekaligus perbuatan.
3. Ayat kesembilan surat ini
menunjukkan tujuan utama dari kemunafikan yang mereka bangun, yaitu dengan
tujuan untuk menipu orang-orang beriman, agar mereka diakui juga sebagai bagian
dari orang islam, namun secara diam-diam mencari celah untuk menghancurkan
islam dan para dainya sekaligus.
4. Namun, mereka tidak menyadari bahwa
Allah swt. adalah Dzat yang mereka tipu terlebih dahulu sebelum orang-orang
beriman dalam perbuatan mereka ini. Sedang mereka tidak menyadari bahwa
sebenarnya mereka sedang menipu diri mereka sendiri.
5. Ada susunan unik dalam ayat kesembilan ini, yaitu Allah SWT.
menempatkan penyebutan Dzat-Nya yang Maha Suci sebelum orang-orang beriman
dalam konteks target utama penipuan orang-orang munafik. “Mereka hendak
menipu Allah dan orang-orang beriman,….”.
Susunan ini mengandung isyarat bahwa
Allah SWT. seolah pasang badan dengan Dzat-Nya yang Maha Suci terlebih dahulu
untuk melindungi orang-orang beriman dan para pengusung dakwah agama ini dari
kerusakan akibat fitnah kalangan munafik, agar dampak itu terfilter terlebih
dahulu sebelum tembus menyasar orang-orang beriman.
Oleh sebab itu, tidak pantas seorang
dai untuk terlalu berlebihan khawatirnya terhadap tipu daya mereka kaum munafik
dan para pendukungnya terhadap agama dan dakwah ini, sebab Allah swt. adalah
pelindung orang-orang beriman tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi
kecuali sesuai kehendak-Nya.
Tafsir at Thabari
Imam Ibnu Jarir at Thabari dalam kitab
tafsirnya berkata Bahwa Allah swt. ketika telah menyatukan urusan Rasul-Nya,
Muhammad ﷺ di negeri hijrahnya (Madinah), kedudukan beliau telah kokoh di
sana, Allah telah memenangkan kalimat-Nya, Islam telah tersebar di rumah-rumah
penduduknya,
kaum Muslimin telah menundukkan kaum
musyrik penyembah berhala yang ada di sana, serta orang-orang Ahli Kitab di
sana pun telah tunduk—maka para pendeta Yahudi mulai menampakkan kebencian yang
mendalam kepada Rasulullah ﷺ.
Mereka menunjukkan permusuhan dan kebencian
karena rasa dengki dan kezaliman, kecuali segelintir orang di antara mereka
yang telah diberi hidayah oleh Allah menuju Islam lalu mereka masuk Islam.
Sebagaimana firman Allah: 'Banyak di antara Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat
mengembalikan kamu setelah kamu beriman menjadi kafir kembali, karena rasa
dengki dalam diri mereka, setelah kebenaran nyata bagi mereka.' (QS. Al-Baqarah: 109).
Dan
sekelompok orang dari kabilah-kabilah kaum Anshar—yang sebenarnya telah
memberikan tempat tinggal dan menolong Rasulullah ﷺ—secara sembunyi-sembunyi menyepakati para
pendeta Yahudi untuk memusuhi Nabi ﷺ dan para sahabatnya serta merencanakan
bencana bagi mereka.
Orang-orang tersebut telah lama terbiasa
dalam kesyirikan dan masa jahiliah mereka; nama-nama mereka telah disebutkan
kepada kami, namun kami enggan memperpanjang isi buku ini dengan menyebutkan nama
serta nasab mereka.
Mereka membantu kaum Yahudi dalam hal tersebut
secara sembunyi-sembunyi, bukan terang-terangan, karena takut akan kematian
atau penawanan dari Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya, serta karena
kecenderungan mereka kepada kaum Yahudi atas kesyirikan dan buruknya pemahaman
mereka terhadap Islam.
Maka, apabila mereka bertemu Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang
beriman dari para sahabatnya, mereka berkata—karena takut demi keselamatan diri
mereka: 'Sesungguhnya kami beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan hari
kebangkitan.'
Mereka mengucapkan kalimat kebenaran dengan
lisan mereka untuk menolak hukum Allah yang berlaku bagi orang yang meyakini
kesyirikan (sebagaimana yang mereka yakini), seandainya mereka menampakkan apa
yang ada di hati mereka.
Namun, apabila mereka bertemu dengan
saudara-saudara mereka dari kaum Yahudi dan kaum musyrik yang mendustakan
Muhammad ﷺ serta apa yang dibawanya, dan mereka telah bermukim (berdua
saja) dengan mereka, mereka berkata: 'Sesungguhnya kami bersama
kalian, kami hanyalah berolok-olok.'
Maka, merekalah yang dimaksud oleh Allah Ta'ala dalam
firman-Nya: 'Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada
Allah dan Hari Akhir," padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang
yang beriman.' (QS. Al-Baqarah: 8).
Tafsir al Qurthubi
Imam al Qurthubi rahimahullah berkata
tentang ayat ini: "Ketika Allah—Jalla wa Ta'ala—menyebutkan orang-orang
mukmin di bagian awal (al Baqarah ayat 1-5), dan memulai dengan mereka karena
kemuliaan serta keutamaan mereka, maka Allah menyebutkan orang-orang kafir
sebagai lawan dari mereka (al Baqarah ayat 6-7), karena kekafiran dan keimanan
adalah dua kutub yang bertolak belakang.
Kemudian Allah menyebutkan kaum munafik (al
Baqarah ayat 8-9) setelah mereka dan menggolongkan mereka bersama orang-orang
kafir sebelumnya, guna meniadakan iman dari diri mereka melalui firman-Nya yang
hak: 'Padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.'
(QS.
Al-Baqarah: 8).
Maka di dalam ayat ini terdapat bantahan terhadap kaum Karramiyah, di mana mereka berpendapat bahwa iman
hanyalah ucapan lisan meskipun hati tidak meyakininya.
Mereka berhujjah dengan firman Allah Ta'ala: 'Maka Allah memberi pahala kepada mereka atas apa yang mereka
ucapkan.' (QS. Al-Maidah: 85), di mana Allah tidak berfirman: 'Atas
apa yang mereka ucapkan dan mereka sembunyikan (di hati)'.
Mereka juga berdalih dengan sabda Nabi ﷺ: 'Aku diperintahkan untuk
memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaha illallah. Jika mereka
telah mengucapkannya, maka darah dan harta mereka terlindungi dariku.'
Pendapat mereka ini menunjukkan kedangkalan, kekakuan, dan
pengabaian terhadap apa yang ditegaskan Al-Qur'an dan Sunnah mengenai perlunya
amal (perbuatan) bersama ucapan dan keyakinan.
Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Iman adalah mengenal dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan
mengamalkan dengan anggota badan.' (HR. Ibnu Majah).
Maka apa yang diikuti oleh Muhammad bin
Karram As-Sijistani dan para pengikutnya sebenarnya adalah hakikat kemunafikan
dan inti dari perpecahan. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan dan akidah yang
buruk.
Ulama kita—rahmatullah 'alaihim—berkata: Mukmin itu ada dua
jenis: mukmin yang dicintai dan dikasihi Allah, serta mukmin yang tidak
dicintai dan tidak dikasihi Allah, bahkan Allah membenci dan memusuhinya.
Setiap orang yang diketahui oleh Allah akan
mengakhiri hidupnya (muwafa) dalam iman, maka Allah
mencintainya, mengasihinya, dan ridha kepadanya.
Sebaliknya, setiap orang yang diketahui
oleh Allah akan mengakhiri hidupnya dalam kekafiran, maka Allah membencinya,
murka kepadanya, dan memusuhinya—bukan karena imannya (yang sementara), tetapi
karena kekafiran dan kesesatannya yang menjadi akhir hidupnya.
Demikian
pula orang kafir ada dua jenis: kafir yang pasti disiksa, dan kafir yang tidak
disiksa. Yang disiksa adalah yang mengakhiri hidupnya dalam kekafiran, maka
Allah murka dan memusuhinya.
Sedangkan yang tidak disiksa adalah yang
mengakhiri hidupnya dengan iman; maka Allah tidak murka dan tidak benci
kepadanya, melainkan mencintai dan mengasihinya—bukan karena kekafirannya (di
masa lalu), tetapi karena iman yang menjadi akhir hayatnya.
Maka tidak diperbolehkan secara mutlak
untuk mengatakan bahwa seorang mukmin berhak mendapatkan pahala dan seorang
kafir berhak mendapatkan siksaan; pernyataan ini harus dibatasi dengan syarat al-muwafah (status akhir hayatnya).
Oleh karena itulah kami berpendapat:
Sesungguhnya Allah telah ridha kepada Umar (bin Khattab) pada saat ia masih
menyembah berhala, dan Allah telah menetapkan pahala serta masuknya ia ke
surga—bukan karena penyembahan berhalanya, melainkan karena keimanannya yang
menjadi akhir hayatnya (al-muwafi bihi).
Sebaliknya, Allah Ta'ala telah murka kepada Iblis pada saat ia
sedang beribadah, karena kekafiran yang menjadi akhir hayatnya. Kaum Qadariyah berbeda pendapat dalam hal ini; mereka
berkata: 'Sesungguhnya Allah tidak murka kepada Iblis saat ia beribadah, dan
tidak pula ridha kepada Umar saat ia menyembah berhala.'
Pendapat (Qadariyah) ini rusak (bathil),
karena telah tetap bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Mengetahui sejak zaman
azali (tanpa awal) tentang bagaimana akhir hayat Iblis—semoga Allah
melaknatinya—dan bagaimana akhir hayat Umar—radhiyallahu 'anhu.
Maka tetaplah (secara logika dan dalil) bahwa Allah telah murka
kepada Iblis dan mencintai Umar (sejak awal).
Hal ini ditunjukkan oleh kesepakatan (ijma')
umat bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak mencintai orang yang diketahui-Nya
sebagai ahli neraka, melainkan Allah murka kepadanya; dan Allah mencintai orang
yang diketahui-Nya sebagai ahli surga.
Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Sesungguhnya amal itu
(dinilai) berdasarkan penutupnya (akhirnya).'
Oleh karena itu, para ulama Sufiyah berkata: 'Iman itu bukanlah sesuatu yang
dijadikan perhiasan oleh seorang hamba melalui ucapan dan perbuatan semata,
tetapi iman adalah mengalirnya kebahagiaan (ketetapan hidayah) dalam garis
takdir azali.
Adapun apa yang tampak pada jasmani (hayakil),
terkadang itu hanya pinjaman (sementara) dan terkadang itu adalah hakikat.'
Aku (Imam Al-Qurthubi) berkata: Hal ini sebagaimana yang telah
tetap dalam Shahih Muslim dan kitab lainnya dari Abdullah bin
Mas'ud, ia berkata: Rasulullah ﷺ telah menceritakan kepada kami—dan beliau adalah orang yang
jujur lagi dibenarkan ucapannya:
'Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut
ibunya selama empat puluh hari (berupa nutfah), kemudian menjadi segumpal darah
(alaqah) selama itu pula, kemudian menjadi segumpal daging (mudghah) selama itu
pula.
Kemudian
Allah mengutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk
menuliskan empat kalimat: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka
atau bahagia.
Maka demi
Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, sesungguhnya salah seorang di antara
kalian benar-benar beramal dengan amalan ahli surga hingga jarak antara dirinya
dengan surga hanya satu hasta, namun ketetapan takdir mendahuluinya, lalu ia
beramal dengan amalan ahli neraka, maka ia pun masuk ke dalamnya.
Dan sesungguhnya salah seorang di antara kalian benar-benar beramal
dengan amalan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dengan neraka hanya satu
hasta, namun ketetapan takdir mendahuluinya, lalu ia beramal dengan amalan ahli
surga, maka ia pun masuk ke dalamnya.'"
Ahad, 26 April 2026
Pkl.17.38 WITA
Khadim al Qur’an wa as
Sunnah
Aswin Ahdir Bolano, S.Ud
*Alumni Tafsir-Hadits UIN Sunan Gunung Djati Bandung


Posting Komentar untuk "Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 8 dan Ayat 9"