Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 10
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu
ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka
berdusta.” (al Baqarah:2)
Asbabun Nuzul
Dalam kitab
asbabun nuzul Imam al wahidi dan kitab asbabun nuzul karya imam as Suyuthi
rahimahumallah, Tidak ada riwayat yang menyebutkan secara pasti tentang sebab
turun ayat ini.
Namun, ayat
ini masih berkaitan dengan pembahasan sebelumnya pada ayat 8 dan 9, yaitu
terkait sifat orang-orang munafik.
Munasabah
- Surat at Taubah ayat 124 dan 125;
- Surat an Nisa ayat 143;
- Surat al Munafiqun ayat 1 dan 2;
- Surat al Mujadilah ayat 16;
- Surat al Ahzab ayat 60 dan 61
Tafsir Haraki
1. Ayat ini
merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang berbicara tentang orang-orang
munafik di kalangan penduduk Madinah. Dalam ayat ini disebutkan bahwa salah
satu penyebab lahirnya sifat munafik adalah hati yang sakit (fi Qulubihim
maradh).
Pelajaran
terbesar dari ayat ini adalah bahwa hendaklah setiap muslim khususnya para
kader dakwah selalu waspada terhadap sekecil apapun penyakit hati. Sebab, jika
tidak ditangani sesegera mungkin, maka ia akan tumbuh dan menjalar ke seluruh
tubuh yang menjadikannya mencapai stadium akhir yang bernama munafik.
2. Sifat
munafik dan iman adalah dua kutub yang berbeda bagaikan langit dan bumi.
Artinya, tidak akan pernah ada sifat munafik dalam diri seseorang selama masih
ada iman di dalamnya hatinya sekecil apapun itu. Demikian juga jika sudah
muncul benih kemunafikan dalam diri seseorang, maka bisa dipastikan bahwa sudah
tidak ada lagi keimanan dalam diri orang tersebut.
Pada stadium
akhirnya, sifat munafik akan menjadikan segala usaha untuk mendakwahi orangnya
menjadi perbuatan sia-sia dalam artian akan dipastikan tanpa hasil, meskipun
tetap berpahala.
Pada posisi
terburuk ini, Allah swt. pun sudah tidak lagi memberi hidayah-Nya kepada mereka
dan bahkan malah menambahkan kegelapan dan penyakit hati ke dalam hati mereka.
3. Sifat
munafik stadium akhir yang ditandai dengan sikap pura-pura beriman untuk mengelabuhi
orang beriman hukumnya sama dengan kekafiran mutlak. Oleh sebab itu, dalam
alQur’an disebutkan bahwa kedua pelakunya sama-sama dikumpulkan oleh Allah swt.
dalam neraka Jahannam, nau’dzubillah.
Inilah
hikmah mengapa ayat ini menggunakan kata “adzabun alim” atau siksa yang
pedih, yaitu sebuah kata ancaman azab yang juga digunakan saat menyebutkan
balasan bagi orang-orang kafir.
4. Kata “Maradh”
atau penyakit dalam ayat ini memiliki beberapa makna di kalangan ulama, yaitu:
1) Syak atau
keraguan; makna ini menurut beberapa kalangan sahabat Nabi saw., maksudnya
yaitu meragukan kebenaran agama islam. Dalam konteks dakwah adalah meragukan
kebenaran dakwah islam.
2) Riya atau suka memamerkan amal; makna ini
menurut beberapa tabi’in, maksudnya yaitu sangat suka memperlihatkan amal
baiknya agar diperhatikan, dilihat dan dipuji orang yang melihatnya.
Makna yang
satu ini merupakan makna dan benih sifat buruk yang wajib senantiasa diwaspadai
oleh para aktivis dakwah, khususnya di bidang dakwah politik. Sebab, akan tipis
bedanya antara sifat riya dan ikhlas saat berada dalam situasi dakwah di ranah
politik.
Perbedaan
utama seorang aktivis dakwah yang berdakwah di ranah politik lewat jalan
pengabdian dan pelayanan masyarakat dengan para aktivis politik selain mereka
adalah pada keberlanjutan amal bakti mereka terhadap umat dan masyarakat.
Oleh sebab
itu, seorang kader dakwah yang beraktivitas di ranah politik tidak boleh hanya
muncul kepada umat di sekitarnya pada saat kampanye saja, mereka wajib beramal
syiar dan pelayanan umat baik itu saat musim kampanye politik atau pun tidak,
baik ia terpilih sebagai wakil rakyat ataupun tidak.
Sebab,
keberlanjutan amal inilah yang akan menjadi satu-satunya pembeda antara seorang
politikus islam dengan selainnya. Serta menjadi tanda ikhlas atau tidaknya amal
pelayanan seorang dai terhadap umat di sekitarnya.
5. Sifat
utama orang munafik adalah “kadzab” atau dusta. Yaitu dusta yang bukan
hanya dalam bentuk ucapan, namun termasuk semua perbuatan lahir yang mereka
kerjakan. Hal inilah yang menyebabkan Allah swt. mengganjar mereka dengan azab
yang pedih atas kedustaan mereka, “………dan bagi mereka siksa yang pedih,
disebabkan mereka berdusta.”
Hadits-hadits Nabi SAW.
1. Nabi SAW.
tidak membunuh orang munafik meski sudah jelas diketahui kemunafikannya.
“Dari Umar
bin Khattab ra., Nabi saw. pernah bersabda:”Aku tidak suka bila nanti
orang-orang Arab mengatakan bahwa Muhammad membunuh teman-temannya. (Shahih al
Bukhari dan Shahih Muslim, dari Tafsir Ibnu Katsir)
Hikmah haraki dalam hadits ini adalah bahwa
sangat diwajibkan atas para pemimpin harakah islam untuk menjaga kehormatan
dakwah di mata dunia.
Hendaklah
para pimpinan dakwah islam berhati-hati atas segala hal dan perbuatan atau
keputusan-keputusan yang bisa merusak nama baik dakwah di mata masyarakat umum
yang awam, meskipun keputusan itu benar sesuai kenyataannya.
Tafsir Ibnu Jarir
1. Imam Ibnu
Jarir rahimahullah menyebutkan bahwa asal kata “al maradh” adalah “al
Saqamu” atau penyakit. Penyakit ini merujuk pada penyakit fisik dan juga
penyakit ruhani. Maksud sebenarnya penyakit hati dalam ayat ini adalah
kerusakan aqidah.
2. “Dalam
hati mereka ada penyakit,…”. Maksud ayat ini adalah mereka kalangan munafik
ragu terhadap apa yang diturunkan Allah swt. kepada Nabi saw., mereka bimbang
dengan kondisi tidak sepenuhnya beriman dan juga tidak sepenuhnya ingkar secara
zhahir.
3. Menurut
Ibnu Abbas ra., dan sejumlah sahabat Nabi saw. arti kata “al maradh” adalah
“al syak” atau keraguan. Qatadah berkata: Dalam hati mereka terdapat
keraguan terhadap agama Allah swt. Imam Abdurrahman bin Zaid berkata artinya
adalah penyakit dalam beragama dan bukan pada tubuh.
4. “…lalu
ditambah Allah penyakitnya,…”. Ayat ini menjelaskan bahwa penyakit hati
yang diderita orang-orang munafik itu terhadap agama islam selalu bertambah
besar dari waktu ke waktu, seiring dengan bertambahnya perintah dan larangan
baru dalam syariat, sebagaimana disebutkan dalam surat at Taubah ayat 124 dan
125.
Anutapura,
8 Mei 2026 Pkl.03.35 Dini Hari
Khadim al Qur’an wa as Sunnah
Aswin Ahdir Bolano, S.Ud
*Alumni Tafsir-Hadits UIN Sunan
Gunung Djati Bandung
.jpg)

Posting Komentar untuk "Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 10"