Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 10

“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (al Baqarah:2)

Asbabun Nuzul

Tafsir, Haraki, Surat, al Baqarah, Ayat, 10

Gambar oleh Anonymous Traveller dari Pixabay

Dalam kitab asbabun nuzul Imam al wahidi dan kitab asbabun nuzul karya imam as Suyuthi rahimahumallah, Tidak ada riwayat yang menyebutkan secara pasti tentang sebab turun ayat ini.

Namun, ayat ini masih berkaitan dengan pembahasan sebelumnya pada ayat 8 dan 9, yaitu terkait sifat orang-orang munafik.

Munasabah

  • Surat at Taubah ayat 124 dan 125;
  • Surat an Nisa ayat 143;
  • Surat al Munafiqun ayat 1 dan 2;
  • Surat al Mujadilah ayat 16;
  • Surat al Ahzab ayat 60 dan 61

Tafsir Haraki

1. Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang berbicara tentang orang-orang munafik di kalangan penduduk Madinah. Dalam ayat ini disebutkan bahwa salah satu penyebab lahirnya sifat munafik adalah hati yang sakit (fi Qulubihim maradh).

Pelajaran terbesar dari ayat ini adalah bahwa hendaklah setiap muslim khususnya para kader dakwah selalu waspada terhadap sekecil apapun penyakit hati. Sebab, jika tidak ditangani sesegera mungkin, maka ia akan tumbuh dan menjalar ke seluruh tubuh yang menjadikannya mencapai stadium akhir yang bernama munafik.

2. Sifat munafik dan iman adalah dua kutub yang berbeda bagaikan langit dan bumi. Artinya, tidak akan pernah ada sifat munafik dalam diri seseorang selama masih ada iman di dalamnya hatinya sekecil apapun itu. Demikian juga jika sudah muncul benih kemunafikan dalam diri seseorang, maka bisa dipastikan bahwa sudah tidak ada lagi keimanan dalam diri orang tersebut.

Pada stadium akhirnya, sifat munafik akan menjadikan segala usaha untuk mendakwahi orangnya menjadi perbuatan sia-sia dalam artian akan dipastikan tanpa hasil, meskipun tetap berpahala.

Pada posisi terburuk ini, Allah swt. pun sudah tidak lagi memberi hidayah-Nya kepada mereka dan bahkan malah menambahkan kegelapan dan penyakit hati ke dalam hati mereka.       

3. Sifat munafik stadium akhir yang ditandai dengan sikap pura-pura beriman untuk mengelabuhi orang beriman hukumnya sama dengan kekafiran mutlak. Oleh sebab itu, dalam alQur’an disebutkan bahwa kedua pelakunya sama-sama dikumpulkan oleh Allah swt. dalam neraka Jahannam, nau’dzubillah.

Inilah hikmah mengapa ayat ini menggunakan kata “adzabun alim” atau siksa yang pedih, yaitu sebuah kata ancaman azab yang juga digunakan saat menyebutkan balasan bagi orang-orang kafir.

4. Kata “Maradh” atau penyakit dalam ayat ini memiliki beberapa makna di kalangan ulama, yaitu:

1) Syak atau keraguan; makna ini menurut beberapa kalangan sahabat Nabi saw., maksudnya yaitu meragukan kebenaran agama islam. Dalam konteks dakwah adalah meragukan kebenaran dakwah islam.

 2) Riya atau suka memamerkan amal; makna ini menurut beberapa tabi’in, maksudnya yaitu sangat suka memperlihatkan amal baiknya agar diperhatikan, dilihat dan dipuji orang yang melihatnya.

Makna yang satu ini merupakan makna dan benih sifat buruk yang wajib senantiasa diwaspadai oleh para aktivis dakwah, khususnya di bidang dakwah politik. Sebab, akan tipis bedanya antara sifat riya dan ikhlas saat berada dalam situasi dakwah di ranah politik.

Perbedaan utama seorang aktivis dakwah yang berdakwah di ranah politik lewat jalan pengabdian dan pelayanan masyarakat dengan para aktivis politik selain mereka adalah pada keberlanjutan amal bakti mereka terhadap umat dan masyarakat.

Oleh sebab itu, seorang kader dakwah yang beraktivitas di ranah politik tidak boleh hanya muncul kepada umat di sekitarnya pada saat kampanye saja, mereka wajib beramal syiar dan pelayanan umat baik itu saat musim kampanye politik atau pun tidak, baik ia terpilih sebagai wakil rakyat ataupun tidak.

Sebab, keberlanjutan amal inilah yang akan menjadi satu-satunya pembeda antara seorang politikus islam dengan selainnya. Serta menjadi tanda ikhlas atau tidaknya amal pelayanan seorang dai terhadap umat di sekitarnya.

5. Sifat utama orang munafik adalah “kadzab” atau dusta. Yaitu dusta yang bukan hanya dalam bentuk ucapan, namun termasuk semua perbuatan lahir yang mereka kerjakan. Hal inilah yang menyebabkan Allah swt. mengganjar mereka dengan azab yang pedih atas kedustaan mereka, “………dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.”  

Hadits-hadits Nabi SAW.

1. Nabi SAW. tidak membunuh orang munafik meski sudah jelas diketahui kemunafikannya.

“Dari Umar bin Khattab ra., Nabi saw. pernah bersabda:”Aku tidak suka bila nanti orang-orang Arab mengatakan bahwa Muhammad membunuh teman-temannya. (Shahih al Bukhari dan Shahih Muslim, dari Tafsir Ibnu Katsir)

 Hikmah haraki dalam hadits ini adalah bahwa sangat diwajibkan atas para pemimpin harakah islam untuk menjaga kehormatan dakwah di mata dunia.

Hendaklah para pimpinan dakwah islam berhati-hati atas segala hal dan perbuatan atau keputusan-keputusan yang bisa merusak nama baik dakwah di mata masyarakat umum yang awam, meskipun keputusan itu benar sesuai kenyataannya.

Tafsir Ibnu Jarir

1. Imam Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan bahwa asal kata “al maradh” adalah “al Saqamu” atau penyakit. Penyakit ini merujuk pada penyakit fisik dan juga penyakit ruhani. Maksud sebenarnya penyakit hati dalam ayat ini adalah kerusakan aqidah.

2. “Dalam hati mereka ada penyakit,…”. Maksud ayat ini adalah mereka kalangan munafik ragu terhadap apa yang diturunkan Allah swt. kepada Nabi saw., mereka bimbang dengan kondisi tidak sepenuhnya beriman dan juga tidak sepenuhnya ingkar secara zhahir.

3. Menurut Ibnu Abbas ra., dan sejumlah sahabat Nabi saw. arti kata “al maradh” adalah “al syak” atau keraguan. Qatadah berkata: Dalam hati mereka terdapat keraguan terhadap agama Allah swt. Imam Abdurrahman bin Zaid berkata artinya adalah penyakit dalam beragama dan bukan pada tubuh.

4. “…lalu ditambah Allah penyakitnya,…”. Ayat ini menjelaskan bahwa penyakit hati yang diderita orang-orang munafik itu terhadap agama islam selalu bertambah besar dari waktu ke waktu, seiring dengan bertambahnya perintah dan larangan baru dalam syariat, sebagaimana disebutkan dalam surat at Taubah ayat 124 dan 125.       

 

Anutapura, 8 Mei 2026 Pkl.03.35 Dini Hari

Khadim al Qur’an wa as Sunnah

Aswin Ahdir Bolano, S.Ud

*Alumni Tafsir-Hadits UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Posting Komentar untuk "Tafsir Haraki Surat al Baqarah Ayat 10"

Buku sejarah 25 Nabi Balita